Senin, 20 Agustus 2012

Tamilouw Terkini

 Basudarah, Kesadaran akan posisi dan peranan sebagai masyarakat lokal dalam Negri Tamilouw, mendorong munculnya kegelisahan akan dominasi ruang
untuk Kaum Intelek komersial terhadap ruang budaya desa Tamilouw yang ko sebut ina Upu Ana Musitoa Amalatu. Formasi identitas YamaLatu yang progresif secara individual
dan kolektif, dipengaruhi oleh naturalisasi primordialisme tokoh elit desa
yang mapan secara ekonomi maupun pengetahuan. Pengendapan makna dalam refleksi atas semua resistensi dan konflik yang pernah terjadi, mendisposisikan urgensi untuk membangun kekuatan agensi budaya desa ini dengan seluruh ruang dan elemen desa. Ideologi identitas Yamalatu membangun strategi dan unifikasi ideologis dalam representaasi politik identitas.
Kesadaran kultural dan nalar awam tokoh elit menyebut politik identitas sebagai ’politik budaya’ (Bassiii,,,). Praktik politik lokal ini memosisikan, konflik dan berbagai resistensi dalam representasi budaya Desa Adat atau Yama Latu ,yang pada akhirnya memosisikan Upu Ana sebagai orang Awam di Negri sendiri, resistensi dalam formasi identitas, resistensi dalam relasi politik dan kekuasaan, pengetahuan sebagai wujud resistensi, sebagai jejak pembentukan
ideologi identitas dan strategi politis baru. Adanya tantangan dan ancaman oleh kaum intelek di luar Desa, mendorong pembentukan identitas kearah formasi politik dan doktrin
pembinaan relasi kekuasaan (bersama) keluarga, kerabat, kelompok atau organisasi, seperti penguatan wacana Desa Otonomi di Negri Yama Latu Musitoa Amalatu.
Politik identitas masyarakat lokal dalam konteks ini, merupakan representasi identitas dalam politik representasi budaya, sebagai reaksi atas representasi kaum liberalis, representasi komersial dan kapitalistik, posrepresentasi budaya global dalam media agama lebih baik diterapkan untuk masyarakat Tamilouw. Sehingga seperti disebutkan, politik identitas yang terjadi adalah Pemerintah lebih menjunjung tinggi nilai adat daripada nilai materialistis, searah dengan gerakan kiri baru dan gerakan intelektual kritis dalam menyikapi bentuk-bentuk (pos)representasi , representasi komersial dan kapitalistik yang meniadakan kelas sosial masyarakat lokal Utamanya Anak Negri sendiri, hingga alienasi keberadaan identitas budaya seperti hilang entah kemana.
Desa-desa tetangga di samping Desa Tamilouw pun tidak mau kalah langkah dalam formasi identitas mereka dengan turut mengusung nilai ‘kebhinekaan’ dalam Pancasila sebagai ideologi negara dan pijakan konsep masyarakat multikultural bagi kaum intelektual dan tokoh-tokoh mereka.
Sehingga representasi sekaligus resistensi budaya mereka, merupakan representasi atas representasi masyarakat lokal, representasi desa, dan representasi identitas budaya dalam representasi diri atau pribadi masing-masing individu. Bisa diasumsikan bahwa kearifan-multikultural akan mendapatkan energinya dalam self-representation atau representasi diri dalam
ruang privat, yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus, dalam
konteks agama, etnis, kepentingan, dan opini.
So, tidak salah lagi, seperti memelihara kucing dalam karung...itu kita, negri kita, dan antek-anteknya...
Salam seperjuangan tuk basudarah Mahasiswa, Pemuda. mae na i usung ko prinsip isa, na i pamunsie ko yamano hahan em helie Budaya asing..utamanya konsep barat....yang bt kira sudah mulai di adopsi oleh ko Yamano....
Musitoa Amalatu...

0 komentar:

Posting Komentar

Pesan dengan makna yang tidak sopan tidak akan ditampilkan.....